Bahasa, Story

Pasang! Pasang!

Suatu malam, saya dan nona Gisela Wulandari pergi untuk makan di salah satu kedai nasi goreng favorit di daerah Ciledug. Sesampainya di lokasi, kami “disambut” pemandangan yang kurang lazim: sepasang suami istri bertengkar.

Sebagai manusia kepo, saya melangkah perlahan sambil mencuri dengar apa duduk masalahnya. “Oh, selingkuh,” saya berbisik pelan.

Makin lama, pasangan ini makin beradu keras suara. Urat leher mereka mulai tampak dan kuping saya sudah mulai gerah akan bisingnya.

Continue reading “Pasang! Pasang!”

Advertisements
English, Story

Heart over head

saeni
Saeni, the warteg cook

The 53-year-old Saeni has lately captured public attentions in Indonesia after a news broadcaster showed how ‘mean’ the Satpol PP officers seizing foods from her small stall. On the basis of a discriminative local regulation, the officers prohibited Saeni –a cook for low-classer in Serang, Banten– to open her food stall, alias warteg, during Ramadan fasting month.

But, the public responses drive me crazy.

The online crowd funding portal KitaBisa.com collected Rp 265,534,758 cash for Saeni –thanks to massive media coverage– meanwhile President Joko Widodo has also sent his bucks for Saeni the tyrannized cook. How generous we are.

Continue reading “Heart over head”

Bahasa, Personal

Setahun Kemarin

17 Februari
Sore itu, setelah semua pekerjaan selesai di kantor, saya coba mengingat apa yang spesial dari tanggal ini. Segera saya buka akun facebook. Langsung, saya scrool timeline ke tanggal 17 Februari 2014.

Seusai sidang skripsi, 17 Februari 2014
Seusai sidang skripsi, 17 Februari 2014

Ya, 17 Februari setahun kemarin jadi momen yang jelas tak bisa dilupakan seumur hidup saya. Beberapa kawan tahu betul cerita panjang hari itu.

Hari itu, saya menjalani sidang skripsi. Setelah lebih dari setahun menulis skripsi, hari itu, saya diuji oleh tiga dosen paling dahsyat seantero FISIP. Namun, kisahnya ada di hari-hari sebelum sidang itu dilaksanakan. Continue reading “Setahun Kemarin”

Bahasa, Story

St Bernadet, Riwayatmu Kini

Saya sedih mendengar apa yang terjadi pada umat St Bernadet belakangan ini. Paroki yang membesarkan saya ini kembali menemui jalan buntu untuk beribadat. Beberapa pihak menghalangi mereka menggunakan lahan untuk kegiatan peribadatan di kompleks Tarakanita, Kelurahan Sudimara Pinang, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang Selatan.

Saya mau berbagai beberapa fakta yang mungkin anda perlu tahu. Untuk menghindari penceritaan yang bertele-tele, saya buat dalam poin-poin agar lebih nyaman dibaca. Continue reading “St Bernadet, Riwayatmu Kini”

Travelling

Sebulan di desa Bauho

Balai desa Bauho.
Balai desa Bauho.

Tidak seperti ini tampaknya saat kami pertama kali tiba. Kala itu kami tiba tengah malam. Sekitar pukul 24 WITA. Gelap dan hujan. Semua tawa canda yang kami nikmati sepanjang perjalanan dari Yogyakarta perlahan-lahan berganti menjadi kecemasan dan ketakutan. Saya sempat berujar pada seorang teman, “Bro, kowe wes siap KKN ki? Bengi iki adewe turu karo wong liyo. Wong Timor meneh.” (“Sobat, kamu sudah siap KKN nih? Malam ini kita tidur sama orang lain. Orang Timor pula.”)

Saya sejujurnya tidak dalam keadaan sungguh siap. Perjalanan ke pelosok Timor kala itu cukup menyenangkan, sehingga saya tidak terbawa pada perasaan gelisah dan insecure. Tapi sesampai di desa bernama Bauho, saya kaget. Hujan dan minim penerangan. Saya perhatikan lampu dipasang seadanya. Saya yakin lampu ini baru dipajang beberapa jam sebelum kami datang. Bapa desa (sebutan untuk kepala desa) tanya saya, “kalian mau tidur disini atau ke rumah-rumah?” Saya langsung jawab, “Kami siap ditempatkan di rumah-rumah, Bapa. Satu rumah, satu orang.” Continue reading “Sebulan di desa Bauho”