English, Film

Hacksaw Ridge: Interpretation of God’s commandments

Hacksaw Ridge, directed by Mel Gibson.
Hacksaw Ridge, directed by Mel Gibson.

Started at the release of Passion of the Christ (2004), Mel Gibson seems to have taking longer time to contemplate, reflect and reread morality papers, in a positive meaning. Pervading into Jesus Christ’ latest 12-hour human life the Passion and jumping to waning days of the Mayan civilization in Apocalypto (2006), Mel once again echoes himself as deep-thinking director with Hackshaw Ridge, released in Indonesia on Nov. 4.

Mel marks his return after a decade of vague by taking the story of Desmond Doss, a Seventh Day Adventist and pacifist who served as a US Army combat medic during the World War II in Okinawa, Japan. Desmond, starred by Arsenal FC fan and Spiderman actor Andrew Garfield, managed to save 75 lives without ever lifting a weapon despite of pressure and rebuff from his commanders at the training camp.

Desmond simply doesn’t take the gun because the Holy Bible forbids him to do so, referring to the sixth God’s commandment: Thou shall not kill. Back in the childhood time, Desmond had almost killed his brother with a stone during a brotherhood fight. It was the moment that changes Desmond’s live, besides one when he set his drunken father at the gunpoint to take his mom out of an altercation. Further details on this may be considered as spoiler, so I stop here.

Continue reading “Hacksaw Ridge: Interpretation of God’s commandments”

Advertisements
Bahasa, Personal, Prayer

Doa Tanpa Tedeng Aling-Aling

IMG-20160819-WA0009
Syukur atas Sepak Bola. Hal. 106.

Beberapa pekan lalu, saya membeli sebuah buku doa karya G.P. Sindhunata, SJ. Judulnya, Dari Jurang yang Dalam: Kumpulan Doa Padupan Kencana. Buku ini diterbitkan oleh Penerbit Boekoe Tjap Petroek tahun 2014 dan diperoleh melalui lapak buku online.

Tidak seperti buku doa Katholik yang mudah didapat di toko rohani atau tempat peziarahan, buku ini menyajikan doa-doa yang menurut pribadi saya sangat relevan dengan masalah sehari-hari dan pertanyaan-pertanyaan spiritualitas manusia. Si penyusun buku, Romo Sindhu, menyentuh ruang-ruang ekspresi manusia yang jamak timbul dalam interaksi kepada Tuhan-nya.

Sejatinya, semangat doa dalam buku ini tidak berbeda dengan doa yang umumnya dijumpai umat Katholik. Hanya saja, ekspresi dan permohonan pendoa ditampilkan lebih telanjang tanpa ini itu sehingga doa tidak hanya jadi sarana bersyukur melainkan juga bercerita sejujur-jujurnya, telanjang, tanpa tedeng aling-aling. Continue reading “Doa Tanpa Tedeng Aling-Aling”

English, Story

Heart over head

saeni
Saeni, the warteg cook

The 53-year-old Saeni has lately captured public attentions in Indonesia after a news broadcaster showed how ‘mean’ the Satpol PP officers seizing foods from her small stall. On the basis of a discriminative local regulation, the officers prohibited Saeni –a cook for low-classer in Serang, Banten– to open her food stall, alias warteg, during Ramadan fasting month.

But, the public responses drive me crazy.

The online crowd funding portal KitaBisa.com collected Rp 265,534,758 cash for Saeni –thanks to massive media coverage– meanwhile President Joko Widodo has also sent his bucks for Saeni the tyrannized cook. How generous we are.

Continue reading “Heart over head”

Bahasa, Essay

Pemerintah, Tegas Donk!

“Noh, daripada intel ngintelin iPad mending tangkepin penceramah-penceramah agama yg nyebarin kebencian noh. Dari agama mana aja,” tulis Joko Anwar, sutradara film, di akun twitter-nya. Bom bunuh diri yang terjadi di Gereja Bethel Injil Sepuluh Kepunton, Jalan Arif Rahman Hakim, Solo, Jawa Tengah, Minggu (25/9), memicu reaksi keras dari beberapa tokoh melalui akuntwitter-nya.

Pergunjingan kemudian menjadi hangat di twitter mengingat kasus pengeboman di rumah ibadah ini bukan terjadi untuk pertama kalinya. Belakangan isu soal toleransi agama juga sering diperbincangkan, kaitannya dengan beberapa kejadian intoleransi di Cikeusik maupun Temanggung. Seperti bola salju, masalah ini semakin lama akan semakin menumpuk tebal dan tentunya akan merugikan beberapa pihak terkait.

Belakangan, sikap publik dalam melihat isu intoleransi agama ini memang mulai merujuk kepada suatu oknum tertentu. Hal ini didasari atas kejadian yang sempat terjadi di Cikeusik, Temanggung, hingga yang terakhir adalah pemboikoitan film “?” yang rencananya diputar oleh salah satu stasiun TV swasta. Namun begitu tak satu pihak-pun mau menyebut terang-terangan karena memang tidak ada bukti yang jelas soal itu. Goenawan Mohamad melalui akun twitter-nya mengatakan, “Berapa lama lagi mereka akan bunuh orang Kristen, Ahmadiah, Syi’ah, Suni, dst? Tahukah mereka, yang berlainan dgn mereka tak akan hilang?”

“Noh, daripada intel ngintelin iPad mending tangkepin penceramah-penceramah agama yg nyebarin kebencian noh. Dari agama mana aja,” -Joko Anwar

Sementara Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono, rencananya baru akan berkomentar sore ini. Meski begitu, sikap publik sudah apatis akan sikap yang diambil pemerintah menangani kasus ini. Dalam beberapa kasus intoleransi beragama sebelumnya, pemerintah, dalam hal ini Polri, memang tidak cukup mampu bertaji dalam menindak pelaku kekerasan dan intimidasi.

Ketidak-tegasan pemerintah inilah yang sebenarnya merugikan banyak pihak. Di satu sisi, masyarakat tentu akan merasa terancam dan tidak tenang dengan adanya kejadian pengeboman rumah ibadah tersebut. Di lain sisi, bagi kelompok tertentu, tentu tidak nyaman mendapat prasangka dan cap buruk dari publik terkait kejadian intoleransi yang terjadi belakangan ini, apalagi kalau nyatanya mereka sama sekali tidak terlibat dalam tindak pengeboman tersebut.

Pemerintah punya peran sentral dan penting dalam menyelesaikan masalah ini. Mengusut tuntas dan menindak tegas pelaku pengeboman adalah cara yang harus ditempuh oleh pemerintah, tidak boleh lagi bersikap lunak. Kejadian macam ini rasanya terus berulang, hingga kalau tidak ditangani secara serius akan berimbas buruk bagi banyak pihak. Masyarakat merasa tak aman, oknum juga akan tak nyaman dituduh.

Kunci persoalan ini ada di pemerintah. Dibutuhkan kemauan yang serius untuk menyelesaikan problem ini dan menciptakan kejelasan mengenai apa dan siapa yang ada di balik pengeboman ini. Kejelasan akan membawa publik tak terus-menerus dalam prasangka buruk terhadap oknum tertentu. Begitupun oknum tersebut tak perlu terus menerus merasa tertuduh apabila memang bukan mereka yang melakukan hal tersebut.