Bahasa, Story

Pasang! Pasang!

Suatu malam, saya dan nona Gisela Wulandari pergi untuk makan di salah satu kedai nasi goreng favorit di daerah Ciledug. Sesampainya di lokasi, kami “disambut” pemandangan yang kurang lazim: sepasang suami istri bertengkar.

Sebagai manusia kepo, saya melangkah perlahan sambil mencuri dengar apa duduk masalahnya. “Oh, selingkuh,” saya berbisik pelan.

Makin lama, pasangan ini makin beradu keras suara. Urat leher mereka mulai tampak dan kuping saya sudah mulai gerah akan bisingnya.

Continue reading “Pasang! Pasang!”

Advertisements
English, Story

Heart over head

saeni
Saeni, the warteg cook

The 53-year-old Saeni has lately captured public attentions in Indonesia after a news broadcaster showed how ‘mean’ the Satpol PP officers seizing foods from her small stall. On the basis of a discriminative local regulation, the officers prohibited Saeni –a cook for low-classer in Serang, Banten– to open her food stall, alias warteg, during Ramadan fasting month.

But, the public responses drive me crazy.

The online crowd funding portal KitaBisa.com collected Rp 265,534,758 cash for Saeni –thanks to massive media coverage– meanwhile President Joko Widodo has also sent his bucks for Saeni the tyrannized cook. How generous we are.

Continue reading “Heart over head”

Bahasa, Story

St Bernadet, Riwayatmu Kini

Saya sedih mendengar apa yang terjadi pada umat St Bernadet belakangan ini. Paroki yang membesarkan saya ini kembali menemui jalan buntu untuk beribadat. Beberapa pihak menghalangi mereka menggunakan lahan untuk kegiatan peribadatan di kompleks Tarakanita, Kelurahan Sudimara Pinang, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang Selatan.

Saya mau berbagai beberapa fakta yang mungkin anda perlu tahu. Untuk menghindari penceritaan yang bertele-tele, saya buat dalam poin-poin agar lebih nyaman dibaca. Continue reading “St Bernadet, Riwayatmu Kini”

Bahasa, Football, Story

Saatnya Rakyat Bermain Sepak Bola

Anak-anak bermain sepak bola di kala hujan. Tempo
Anak-anak bermain sepak bola di kala hujan. Tempo

Membincangkan sepak bola selalu tak jauh dari urusan hiburan dan prestasi. Setiap akhir pekan kita ramai membicarakan pertandingan liga eropa. Di saat timnas berjuang meraih gelar, tenaga kita seakan tak pernah habis untuk mendukung. Tapi, kita lupa bahwa hakikat olah raga adalah untuk meningkatkan kebugaran fisik. Pertanyaannya, sudahkah kita bermain sepak bola?

Di era 90-an, senam sempat menjadi olah raga favorit masyarakat luas. Senam SKJ, poco-poco, hingga sajojo dikenal sangat akrab di masyarakat berbagai kalangan. Belakangan, lari dan sepeda adalah dua olah raga yang sangat populer. Hampir semua kota besar mengadakan car free day di minggu pagi untuk memberikan ruang pada publik untuk berolahraga.

Pertanyaan menjadi sangat mudah bila kita bicara soal sepak bola. Apakah selama ini sepak bola adalah olah raga untuk sekedar ditonton, atau juga untuk dimainkan? Continue reading “Saatnya Rakyat Bermain Sepak Bola”

Bahasa, Story, Travelling

Makanan ala Timor

Dua hingga tiga jam selepas mendarat di Bandara El-Tari Kupang, saya menyadari satu hal: ada baiknya tidak makan ayam untuk sementara. Waktu itu kami makan siang di sebuah RM Singgalang, Kuatmana, Tetaf. Jaraknya cukup jauh dari Kupang dan letaknya di perbukitan.

Membuka menu dan langsung mencari menu ayam goreng. Maklum, saya pikir ayam adalah lauk paling lumrah dan murah. Ternyata tidak demikian disini. Ayam goreng, ayam balado, dan ayam opor harganya Rp 18.000. Yah, harga yang lumrah. Saya cari menu lain. Eh, ternyata ada dendeng kering, dendeng balado, dan rendang. Harganya lebih murah: Rp 14.000. Saya garuk-garuk kepala. Kok bisa lebih murah ya. Akhirnya saya pilih dendeng balado.

Dendeng Balado di Tetaf.
Dendeng Balado di Tetaf.

Usut punya usut, di Pulau Timor ternyata ayam lebih mahal dari pada daging sapi. Mengapa demikian? Populasi sapi banyak karena Timor punya banyak lahan kosong, cuma ditumbuhi rumput. Mereka tinggal melepas sapi ternak di lahan tersebut, tentu dengan mengikat kaki sapi tersebut. Untuk jaga-jaga, lazimnya warga memagari tanaman, pohon, atau kebun mereka agar sapi tidak menyeruduk masuk dan menghabisi atau merusak tanaman mereka. Sedikit berbeda dengan di Jawa, warga di Timor lebih banyak meng’kandang’kan tanaman dari pada ternak. Continue reading “Makanan ala Timor”