English, Film

Hacksaw Ridge: Interpretation of God’s commandments

Hacksaw Ridge, directed by Mel Gibson.
Hacksaw Ridge, directed by Mel Gibson.

Started at the release of Passion of the Christ (2004), Mel Gibson seems to have taking longer time to contemplate, reflect and reread morality papers, in a positive meaning. Pervading into Jesus Christ’ latest 12-hour human life the Passion and jumping to waning days of the Mayan civilization in Apocalypto (2006), Mel once again echoes himself as deep-thinking director with Hackshaw Ridge, released in Indonesia on Nov. 4.

Mel marks his return after a decade of vague by taking the story of Desmond Doss, a Seventh Day Adventist and pacifist who served as a US Army combat medic during the World War II in Okinawa, Japan. Desmond, starred by Arsenal FC fan and Spiderman actor Andrew Garfield, managed to save 75 lives without ever lifting a weapon despite of pressure and rebuff from his commanders at the training camp.

Desmond simply doesn’t take the gun because the Holy Bible forbids him to do so, referring to the sixth God’s commandment: Thou shall not kill. Back in the childhood time, Desmond had almost killed his brother with a stone during a brotherhood fight. It was the moment that changes Desmond’s live, besides one when he set his drunken father at the gunpoint to take his mom out of an altercation. Further details on this may be considered as spoiler, so I stop here.

Continue reading “Hacksaw Ridge: Interpretation of God’s commandments”

Advertisements
Bahasa, Film

JAFF 2013: Otak Keledai dan Interpretasi Bebas Toilet Blues

Jogja-NETPAC Asia Film Festival (JAFF) is back, people.

Screening JAFF. jaff-filmfest.org
Screening JAFF. jaff-filmfest.org

Sebagai salah satu pendatang yang numpang belajar di Jogja, saya harus merasa beruntung bisa datang ke festival film ini. Pilihan filmnya tak pernah mengecewakan. Ini adalah cerita saya menonton empat pemutaran di JAFF 2013 ini. Silahkan disimak. Continue reading “JAFF 2013: Otak Keledai dan Interpretasi Bebas Toilet Blues”

Bahasa, Film

Sang Penari: Tuntutan Etik Atas Nama Sejarah

Prisia Nasution dalam sebuah adegan di film Sang Penari. Cinema Poetica
Prisia Nasution dalam sebuah adegan di film Sang Penari. Cinema Poetica

Suasana kering kerontang, buruh tani miskin, logat ngapak khas Banyumas, serta tarian ronggeng fenomenal pernah diceritakan oleh Ahmad Tohari dalam trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. Tahun ini, sebuah film yang terinspirasi dari trilogi tersebut dirilis. Salto film mengangkat novel Ronggeng Dukuh Paruk menjadi sebuah film dengan judul Sang Penari.

Film yang disutradari Ifa Isfansyah ini bercerita tentang Srintil, seorang putri Dukuh Paruk, yang menjalani pilihannya menjadi ronggeng. Sang Penari menceritakan kehidupan di Dukuh Paruk yang gempita dengan kehadiran ronggeng. Tempe bongkrek yang dibuat oleh Santayib meracuni sebagian penduduk Dukuh Paruk sehingga banyak diantara mereka yang meninggal karenanya, termasuk sang ronggeng kala itu. Kehilangan ronggeng membuat kehidupan di Dukuh Paruk menjadi sepi. Continue reading “Sang Penari: Tuntutan Etik Atas Nama Sejarah”

Bahasa, Film

Real Steel: Cerita Robot Petinju

“Well I have been quietly standing in the shade all of my days. Watch the sky breaking on the promise that we made all of this rain.”

Sepintas nada-nada lirih Alexi Murdoch yang membuka Real Steal membawa penonton kepada kesepian hidup yang dirasakan Charlie Kenton (Hugh Jackman). Kesialan membuatnya harus kehilangan Ambhus, robotnya, yang habis dibantai seekor banteng dalam sebuah pertarungan.

A scene of Real Steel.
A scene of Real Steel.

Real Steel menceritakan kejadian berlatar near future dimana tinju tak lagi menjadi pilihan bagi banyak orang. Charlie yang dulunya seorang petinju, kini menjadi seorang petarung robot. Setelah Ambhus dihancurkan seekor banteng, ia membeli Noisy Boy. Untuk mendapatkan uang untuk membeli Noisy Boy, ia harus ‘menjual’ hak asuh anaknya Max Kenton (Dakota Goyo) kepada Marvin, suami Debra. Adapun Debra adalah bibi Max yang ingin mengasuhnya. Marvin sepakat memberi Charlie $100.000 untuk hak asuhnya, namun ia meminta Charlie untuk menjaga Max terlebih dahulu karena ia dan Debora berencana berlibur ke Italia.

Tuntutan hutang membuat Charlie harus bertarung. Max ikut bersama Charlie ke arena pertarungan. Di pertandingan pertamanya, Noisy Boy menantang Midas. Namun sayangnya Noisy Boy hancur berantakan di tangan Midas. Charlie tak punya apa-apa lagi. Kala itulah Max menemukan sebuah robot rongsokan bernama Atom ketika  ia hampir mati di sebuah tebing tempat pembuangan sampah robot. Atom adalah robot G-20 yang dibuat untuk menjadi robot latihan. Namun Bailey Tallet (Evangeline Lilly), teman dekat Charlie, membantu untuk membenahi Atom.

Latar yang diceritakan dalam Real Steel ini memang tidak terlalu jelas. Meskipun dikatakan berlatar near future,namun hal-hal yang identik dengan kehidupan sekarang ini terlihat dominan. Petunjuk dari Max yang menyebut tahun 2016 sebagai masa lampau mungkin mau mengajak penonton pergi sejenak ke masa depan namun juga melupakan dimensi waktu kapan cerita ini sedang berlangsung. Efeknya, siapapun harus merasakan fantasi yang bertumpang tindih dengan realita.

Lepas dari hal tersebut, Shawn Levy mengajak penonton masuk ke sebuah latar dimana olahraga tinju adalah sebuah sejarah usang yang patut dilupakan. Manusia hanya butuh mengendalikan robot untuk bertarung tanpa harus lagi saling menyakiti. Bailly Tallet menjadi saksi perubahan tersebut. Ia tinggal di sebuah sasana peninggalan ayahnya yang dulunya merupakan pelatih tinju Charlie, namun kini ia hanya mengurusi robot-robot Charlie.

Dalam beberapa kali pertandingan Atom mampu memenangkan pertandingan dan taruhan dengan robot-robot lain. Sampai pada akhirnya ia diundang ke WRB (World Robot Boxing), sebuah pertandingan robot kelas dunia. Farra Lemkova, jutawan pemilik raja semesta robot Zeus, berkeinginan membeli Atom, tapi Max jelas menolak tawaran tersebut. Tanpa disangka-sangka, Atom memenangkan pertandingan melawan robot Twin Cities. Setelah kemenangan itu, Max dengan lancangnya menantang Zeus untuk bertanding. Namun sayangnya, Charlie harus mengembalikan Max ke Marvin dan Debra karena sudah kembali dari Italia.

Dalam film ini, dengan berani Shawn Levy menyajikan realita menyedihkan segala olahraga di dunia ini: perjudian. Film ini mengajak penonton berefleksi kehidupan robot-robot petarung ini tak ubahnya atlet-atlet (tinju). Ia membawa sosok Charlie hadir sebagai representasi spirit seorang petinju. Ia harus bertarung untuk dapat uang, dan jadi obyek taruhan bagi banyak penikmatnya di dunia ini. Mohamad Ali pernah berkilah, “It’s just a job. Grass grows, birds fly, waves pound the sand. I beat people up,” dan Shawn Levy menunjukan ia tak sependapat dengan Ali.

Di akhir cerita, Charlie meminta Debora untuk mengijinkan Max ikut bersamanya demi pertandingan terakhir menantang Zeus. Debra mengijinkan. Max dan Charlie siap membawa Atom bertarung melawan Zeus.

Zeus dikenal sebagai raja semesta robot. Ia tak terkalahkan. Atom dibuatnya terjatuh sampai tiga kali, namun ia masih mampu bangkit. Dalam keadaan tertekan, Max meminta Charlie untuk mau mengendalikan Atom dengan gerakan tinjunya. Pengalaman Charlie sebagai petinju membawa hasil positif bagi Atom, dengan jelinya Charlie mengatur kapan harus bertahan dan menyerang. Keadaan berbalik ketika Atom mampu menguasai keadaan, namun sayangnya bel berbunyi sebelum Zeus menyerah jatuh. Juri memberi kemenangan pada Zeus.

Tak perkara buat Max dan Charlie kemenangan jadi milik Zeus. Orang-orang menyebut mereka sebagai people’s champion. Meski tak memenangkan pertandingan, Max dan Charlie sudah cukup merasa puas dengan apa yang mereka lakukan. Di kala memenangkan pertarungan adalah hal penting, jangan lupa bahwa memenangkan hati dan perasaan diri kita sendiri adalah hal yang lebih penting. Ending film ini memang tak terasa manis, namun cenderung mengharukan. Sutradara memang menghadirkan deus ex machine melalui rusaknya sistem si raja semesta robot Zeus disusul kelelahannya, namun hal ini tidak lalu dimanfaatkan untuk menjadi karpet merah kemenangan Atom. Nyatanya, Atom memang tak perlu dibuat menang.

John Gatins menulis naskah yang sederhana sebenarnya, namun dramatisasi yang dihadirkan sutradara rasanya membawa penonton menjadi salah seorang yang duduk dan menyaksikan pertarungan langsung di Virgin America Spectrum, venue pertarungan. Iringan musik Danny Elfman membawa penonton dalam mood yang dirasakan Charlie, mulai dari kesepian, kalah, hingga euforia di pertandingan terakhir. Sebagai produser, Steven Spielberg memiliki peran besar dalam setiap sentuhan dalam Real Steel.

Penulis merekomendasikan film ini untuk ditonton oleh siapapun. Selamat menonton!