Bahasa, Personal

Celana Tinggal Dua

wife: mas, aku sedih.

me: kenapa?

wife: mas cuma punya dua celana. pas libur, kita beli celana buat mas ya.

me: ah, kamu. celana mas itu banyak, banyak banget. tapi yang muat tinggal dua.

 

Advertisements
Bahasa, Story

Pasang! Pasang!

Suatu malam, saya dan nona Gisela Wulandari pergi untuk makan di salah satu kedai nasi goreng favorit di daerah Ciledug. Sesampainya di lokasi, kami “disambut” pemandangan yang kurang lazim: sepasang suami istri bertengkar.

Sebagai manusia kepo, saya melangkah perlahan sambil mencuri dengar apa duduk masalahnya. “Oh, selingkuh,” saya berbisik pelan.

Makin lama, pasangan ini makin beradu keras suara. Urat leher mereka mulai tampak dan kuping saya sudah mulai gerah akan bisingnya.

Continue reading “Pasang! Pasang!”

Bahasa, Personal, Prayer

Doa Tanpa Tedeng Aling-Aling

IMG-20160819-WA0009
Syukur atas Sepak Bola. Hal. 106.

Beberapa pekan lalu, saya membeli sebuah buku doa karya G.P. Sindhunata, SJ. Judulnya, Dari Jurang yang Dalam: Kumpulan Doa Padupan Kencana. Buku ini diterbitkan oleh Penerbit Boekoe Tjap Petroek tahun 2014 dan diperoleh melalui lapak buku online.

Tidak seperti buku doa Katholik yang mudah didapat di toko rohani atau tempat peziarahan, buku ini menyajikan doa-doa yang menurut pribadi saya sangat relevan dengan masalah sehari-hari dan pertanyaan-pertanyaan spiritualitas manusia. Si penyusun buku, Romo Sindhu, menyentuh ruang-ruang ekspresi manusia yang jamak timbul dalam interaksi kepada Tuhan-nya.

Sejatinya, semangat doa dalam buku ini tidak berbeda dengan doa yang umumnya dijumpai umat Katholik. Hanya saja, ekspresi dan permohonan pendoa ditampilkan lebih telanjang tanpa ini itu sehingga doa tidak hanya jadi sarana bersyukur melainkan juga bercerita sejujur-jujurnya, telanjang, tanpa tedeng aling-aling. Continue reading “Doa Tanpa Tedeng Aling-Aling”

Bahasa, Personal

Setahun Kemarin

17 Februari
Sore itu, setelah semua pekerjaan selesai di kantor, saya coba mengingat apa yang spesial dari tanggal ini. Segera saya buka akun facebook. Langsung, saya scrool timeline ke tanggal 17 Februari 2014.

Seusai sidang skripsi, 17 Februari 2014
Seusai sidang skripsi, 17 Februari 2014

Ya, 17 Februari setahun kemarin jadi momen yang jelas tak bisa dilupakan seumur hidup saya. Beberapa kawan tahu betul cerita panjang hari itu.

Hari itu, saya menjalani sidang skripsi. Setelah lebih dari setahun menulis skripsi, hari itu, saya diuji oleh tiga dosen paling dahsyat seantero FISIP. Namun, kisahnya ada di hari-hari sebelum sidang itu dilaksanakan. Continue reading “Setahun Kemarin”

Bahasa, Essay

Matematis dan Elitis

Lima dari sembilan fraksi di DPR ingin agar pemilihan kepala daerah (Pilkada) dilakukan secara tidak langsung oleh DPRD. Jika disahkan 11 September mendatang, demokrasi di daerah akan menjadi seperti yang diinginkan para elit, yakni matematis dan ekslusif.

Mengapa demikian? Sebab, elit dapat melakukan pengukuran secara matematis mengenai siapa yang akan menjadi kepala daerah. Sang kandidat pun dengan mudah dapat memetakan langkah apa yang perlu diambil agar dapat memenangkan pertarungan.

Pilkada akan menjadi sebuah praktik demokrasi yang elitis dimana segelintir orang menentukan pemimpin bagi seluruh masyarakat. Juga, kandidat tidak perlu lelah memikirkan program dan perubahan apa yang ingin dikerjakannya sebab sang pemilih, yakni anggota DPRD, (mungkin) tidak mempertimbangkan dengan cermat hal tersebut ketika menjatuhkan pilihan. Continue reading “Matematis dan Elitis”