Bahasa, Story

Pasang! Pasang!

Suatu malam, saya dan nona Gisela Wulandari pergi untuk makan di salah satu kedai nasi goreng favorit di daerah Ciledug. Sesampainya di lokasi, kami “disambut” pemandangan yang kurang lazim: sepasang suami istri bertengkar.

Sebagai manusia kepo, saya melangkah perlahan sambil mencuri dengar apa duduk masalahnya. “Oh, selingkuh,” saya berbisik pelan.

Makin lama, pasangan ini makin beradu keras suara. Urat leher mereka mulai tampak dan kuping saya sudah mulai gerah akan bisingnya.

Nona melangkah ke cepat ke meja makan di kedai tersebut, seolah tidak mau peduli. Saya mengikuti di belakang.

Sampai di depan meja, nona membanting uang kertas Rp 2.000 ke meja. Sontak, saya menatap nona untuk menangkap apa maksudnya.

“Ayo, pasang! Pasang, pasang! Siapa yang menang?”

AH. SERIUS? Ada pasangan lagi bertengkar, kamu ngajak saya taruhan? Dan saya tidak kuat menahan tawa.

Singkat cerita, saya makan nasi goreng dan nona makan kwetiauw.

Di parkiran, kami sudah tidak menemukan pasangan suami istri yang bertengkar tadi. Syukurlah.

Ternyata, mereka masih bertengkar, hanya saja kini di seberang jalan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s